Mohon Syahid dari Tarbiyah Nafsu

solat Hari ni ana terkesan dengan satu pesanan dari sahabat baik ana sewaktu bertemu dengannya sebentar tadi.
Topik yang kami bincangkan berkisar mengenai isu jihad, ya lah, dengan apa yang berlaku di Gaza baru-baru ni, walaupun rata2 dah ‘menyejuk’ isu ini diam tak diperkatakan, namun pengajaran disebaliknya terlalu banyak untuk tidak kita ambil iktibar dicelah2 apa yang berlaku. Untuk kita biarkan ia berlalu tanpa kita ceduk ibrah dan pengajarannya.

Kami membicarakan tentang sabda Rasulullah saw yang menceritakan bagaimana seorang yang telah syahid memohon agar dihidupkan semula lalu dihantar ke dunia kembali untuk dia berjihad sekali lagi lalu kembali merasai syahid yang indah itu, lagi dan lagi.Maka sahabat ana berkata;

Sebagaimana hanya orang yang biasa bangun malam dan menghidupkannya ketika orang lain sedang lena merasai indah dan manisnya saat itu, begitulah analoginya dengan si syuhada’ dalam sabda Rasulullah saw tadi. Hanya mereka yang merasainya saja yang faham, hanya mereka yang merasai indahnya bermunajat dengan Allah dikeheningan malam, yang faham dengan maksud ‘indah’ tersebut. Hanya mereka yang sudah merasai nikmat mati syahid di jalan Allah swt saja yang faham betapa ianya satu nikmat yang cukup besar, yang mahu terus dirasai berulang kali, sebagaimana dalam ikrar kita:

Allahu Ghoyatuna
ArRasul Qudwatuna
AlQuran Dusturuna
AlJihadu Sabiliuna
AlMautu fisabilillah…Asma amanina

Allah adalah Tuhan kami
Rasul adalah tauladan kami
Al Quran pedoman hidup kami
Jihad adalah jalan juang kami
Syahid di jalan Allah adalah… cita-cita kami tertinggi

Maka perlu sangat kita memohon kepada Allah supaya kita juga termasuk dalam senarai mereka yang menunggu giliran untuk syahid di jalan Allah swt. Mohon pada Allah supaya kita tidak takut, tidak gentar, malah bercita2 besar untuk menjadi syuhada’ Allah. Ameen.

Bagi ana, cantik sungguh analogi yang diberi! Sebagaimana yang pernah ana katakan dengan ukhuwah, hanya mereka yang sudah merasai indahnya ukhuwah di jalan Allah saja yang akan mengerti maksud ukhuwah yang sebenar, begitulah juga dengan si ‘pendiri malam’ dan si syuhada di jalan Allah…. Lalu ana teringat pada satu entri dari blog Ustaz Lah (Abdullah Zaik) yang menyebut;

“Seseorang yang melalui tarbiyah, harus melalui detik-detik pedih dalam mentarbiyah nafsu.”

MasyaAllah, subhanAllah!
Sangat benar sekali bila direnung bagaimana mujahadahnya kita mendidik nafsu… peperangan yang berterusan hingga kita dijemput bertemu Allah swt nanti. Saban waktu, hari demi hari, kita harus berperang dalam mendidik nafsu agar nafsu mengikut apa yang dibawa dan diajar oleh Rasulullah saw, bukan nafsu yang mendahului dan memimpin kita. Betapa perlu kita merasa susah dan payah dalam mentarbiyah nafsu, sebab nafsu sentiasa bercanggah dengan iman. Apa yang di suruh oleh keimanan, itulah yang amat dibenci oleh nafsu. Apa yang disenangi dan disukai nafsu, itulah yang bertentangan dengan iman. Jesteru, peperangan akan terus berlaku….

Bukan senang nak mendidik nafsu supaya bangkit meninggalkan tilam, bantal dan selimut di tengah2 kedinginan malam, untuk kita habiskan sedikit masa beruzlah dengan Allah swt. Bukan mudah nak mentarbiyah nafsu supaya bangun menyahut apa saja seruan jihad di jalan Allah, samada yang berbentuk persediaan tarbiyah, mental, rohani mahupun jasmani, atau pun jihad mengangkat senjata itu sendiri (bila sampai ketikanya kita diuji).

Cuba kita renung sabda Rasulullah saw di bawah :

“Diantara tanda2 kecelakaan bagi seseorang itu, ada empat perkara;

1. Mata yang kaku ( susah untuk menangisi dosa sendiri)
2. Hati yang keras ( payah nak buat amal kebaikan)
3. Pandang mudah dengan dosa
4. Rakus dengan dunia (dunia melalaikannya)”

Bagaimana mata boleh jadi kaku? Kerana hati yang keras!
Hati boleh jadi keras, sebab terlalu banyak dengan dosa,
Kenapa boleh banyak terjebak dengan dosa? Sebab tak ingat mati.
Tak ingat mati kerana terlalu cinta dengan dunia,
dan cintakan dunia adalah pangkal segala kesilapan….

Maka Nabi sendiri selalu berdoa, dan mengajar kita supaya sentiasa juga berdoa:

“Ya Allah, janganlah Engkau beri kehidupan kepadaku, melainkan kehidupan akhirat.”

ertinya, kita tidak leka merasai kehidupan sementara ini sebagai kehidupan kita, tapi merasai bahwa kehidupan yang sebenar2 kehidupan kita adalah akhirat. Berapa banyak diantara kita yang sentiasa beringat bahwa kehidupan yang hakiki kita adalah kehidupan akhirat???

Lindungi kami Ya Allah.

Wallahu’alam.

4 thoughts on “Mohon Syahid dari Tarbiyah Nafsu

  1. Nafsu takkan dapat dilenyapkan dari diri, sebab dah fitrah kesempurnaan manusia itu kerana diciptakan nafsu bersamanya. So, yang boleh dan harus dilakukan adalah didik nafsu supaya boleh dikawal dan dibentuk… bukan senang, tapi bukan jugak mustahil. Cuma perlu pada ilmu kemudian mujahadah.

  2. selagi hakikat cintakan dunia masih menguasai diri, selagi itulah nafsu akan bermaharajalela; para Sahabat (r.a) ditarbiyah nafsu mereka dengan hakikat akhirat, kehidupan yang kekal abadi ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s