Tanda KasihNya

ujian

Ujian, satu kemestian dalam hidup. Satu sunnatullah yang menjadi ketetapan Allah buat semua hambaNya. Ujian boleh datang dalam berbagai bentuk dan rupa. Musibah yang menimpa, jelas dan terang dapat diterima oleh hambaNya yang beriman sebagai satu ujian Allah untuk menghapus dosa, mengangkat darjat hambaNya atau buat jalan memberi pahala. Manakala nikmat juga adalah ujian yang sering terleka oleh manusia untuk diterimanya sebagai ujian yang datang menguji keimanan, tetapi sering dianggap hanya sebagai limpah kurnia Allah dek kerana sayangnya Allah pada kita. Maka kita selalu lalai dengan nikmat.

Maka manusia terbahagi kepada dua golongan. Yang pertama akan tetap menganggap walau musibah atau nikmat yang diterimanya, itu semua adalah ujian dari Allah untuk menguji tahap keimanan , kesabaran dan cara pengendalian ujian yang menimpa. Golongan ini akan sentiasa melihat tiap yang berlaku itu sebagai tanda kasih sayang Allah terhadap dirinya. Masakan tidak, tiap detik, terasa Allah sedang mengawasinya dan menunggu tindak balasnya atas tiap yang dititipkan atas nama ujian. Alhamdulillah.

Manakala golongan kedua, akan menerima musibah sebagai ujian Allah untuk mengujinya, akan disambut ujian itu sebagai tanda Allah menguji keimanannya, lalu dia bertindak menurut tahap iman di dada. Tetapi bila nikmat yang diturunkan, baginya itu adalah tanda Allah kasihkan dia, tapi bukan sebagai ujian Allah menguji cara dia menerima dan menggunakan nikmat tersebut. Jelas, antara dua golongan ini, golongan pertamalah yang paling beruntung.

Ana dapat call dari kenalan lama ana baru2 ni… Dia mengadu kisah rumahtangganya pada ana. Katanya,

“Selama ni, I ok je dengan hubby I. Bukan takde masalah langsung, tapi semuanya dapat diselesaikan sendiri, tanpa campur tangan orang luar. Cuma kali ni, I terasa sangat Allah menguji apa yang I dok war warkan pada orang lain.”

Ana kurang pasti maksud dia, bila ditanya, rupanya dia baru saja selesai beri talk pada ratusan kaum hawa dalam satu seminar wanita di ibukota beberapa bulan yang lalu. Katanya,

“Apa yang dibentangkan dalam seminar tu adalah mengenai masalah biasa dalam rumahtangga serta cara2 untuk mengatasi serta mengelakkannya. Ada jugak I sentuh bab-bab nak menghangatkan rumahtangga yang mulai lesu dek usia. I tak sangka, apa yang I cakap dulu tu, sekarang melanda rumahtangga I sendiri.”

Ana mulai faham maksud kawan lama ana nih.

Terus teringat pada Surah Al Angkabut, ayat 2 yang berbunyi;

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ

Patutkah manusia menyangka bahawa mereka akan dibiarkan dengan hanya berkata: Kami beriman, sedang mereka tidak diuji (dengan sesuatu cubaan)? (2)

3503745584_98a2843efc_o

Subhanallah, manusia memang mudah berkata2, memberi nasihat seadanya pada orang yang meminta, namun kadangkala alpa, bahwa Allah akan menguji kita dengan apa yang telah kita perkatakan… Lembut lidah tak bertulang, memperkatakan sesuatu itu memang senang. Tapi Allah tetap akan menguji kita, sejauh mana kebenaran lafaz kita dengan tindakan kita pulak, bila kita diuji dengan benda yang serupa.

Ana terinagt seorang teman karib ana, yang sangat2 takut untuk membicarakan mengenai poligami, walau macamana sekalipun dia diminta untuk memberi nasihat mengenainya. Dia selalu kata;

“Wallahu’alam, saya tak berani nak kata apa, sebab saya takut… saya tau saya tak mampu dengan ujian poligami ni.”

Mungkin, inilah maksuud teman karib ana, enggan berbicara mengenai sesuatu yang dia pasti dia takkan mampu menghadapinya, kerana takutkan ayat di atas… takut kalau2 dia diuji bagi menentukan tahap keimanannya terhadap sesuatu isu yang diperkatakan.

Lalu ana teringat jugak pada ucapan2 dalam tazkirah mengenai dakwah;

“Berdakwah ni umpama membaling bola ke dinding. Lagi kuat kita baling, lagi kuat lantunannya pada kita. Maka itulah dia kesan dakwah buat diri kita.”

Ana mulai mengerti maksudnya di sini. Pertama, kesan dari dakwah itu akan kita rasai pada diri sendiri, itu tanda kasih sayang Allah pada mereka yang berdakwah kepadaNya. Lagi kuat kita berdakwah, lagi kuat ia mengesani hati kita. Dan seperti dalam kisah kawan lama ana tadi, menyampaikan seminar, membentang kertas kerja pada ratusan orang lain, tiba2 dirinya sendiri pula yang dilanda ujian seperti yang diperkatakannya. Adakah itu juga petanda kasih sayang Allah pada dia?

65

Nasihat ana, terpulang pada cara penerimaan dia dengan masalah tersebut. Kalau dia menerimanya sebagai tanda kasih sayang Allah, pasti akan dibelek di mana hikmah yang tersembunyi. Tetapi, kalau itu hanya dilihat sebagai musibah, sebagai satu ‘dendaan’, atau sebagai satu hukuman, maka denda dan hukuman lah jadinya atas kita yang menerima.

Hikmah terhadap apa saja yang berlaku itu, terkadang terlalu kompleks untuk dilihat sekilas pandang. Tarbiyah Allah boleh datang dalam pelbagai corak dan cara. Sekali terketuk, memang perit sakit yang terasa. Tapi, cuba duduk sebentar, bertafakkur dengan setiap yang berlaku, kiraikan dan belek2kan semua yang tersurat dan tersirat, pasti banyak hikmah yang akan kita jumpa di dalamnya. Setidak2nya, dalam kes kawan lama ana tadi, aplikasi dengan ilmu di dada kepada masalah diri sendiri, membuatkan kita lebih berpengalaman dan lebih matang dalam mengharungi mehnah kehidupan.

Semua itu mengajar kita mengenal diri sendiri dan pasangan dengan lebih baik lagi, melalui kaca mata ilmu dan rasa, bukan hanya pandai berbicara tanpa ada unsur praktikalnya. Namun bagi ana, yang lebih utama dan lebih berharga, adalah apabila niat berseminar dapat dimurnikan lagi supaya lebih pure dan suci, itu lebih besar hikmahnya. Apa lagi yang lebih penting, kalau bukan tarbiyah menyaring keikhlasan kita hanya untuk Allah semata.

Sering berlaku, dalam ghairah kita memperkatakan sesuatu kepada orang lain, kemudian merasai bahwa kata2 kita diterima orang ramai, lalu kita menjadi sebutan malah mungkin juga ke tahap sanjungan, kita lupa bahwa nikmat ‘glamour’ dan ‘berjayanya’ kita dimata orang itu sebenarnya adalah ujian dari Allah untuk kita. Sekali sekala kita perlu pada ‘ketukan’ dan ‘sindiran’ Allah supaya kita tidak terus hanyut dengan teori dan syok sendiri. Itulah diantara cara Allah mentarbiyah diri kita. Maka, bersyukurlah, Allah masih menitipkan kasih sayangNya pada kita, dan kita masih merasainya…. hati kita masih peka untuk merasai tarbiyah dari Allah. Bersyukurlah, Allah tidak tidak membiarkan kita terus hanyut dibuai ‘glamour’ dengan nikmat2 yang diberiNya. Merasai tiap yang berlaku itu sebagai tanda kasih sayang Allah pada kita adalah merupakan satu terapi paling mujarab dalam menangani apa juga ujian yang dititipNya pada kita.

Sesungguhnya, Allah itu sebagaimana yang kita sangka akan Dia. [Intipati dari satu Hadith Qudsi]

Wallahu’alam.

3 thoughts on “Tanda KasihNya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s