Al Quran itu Cahaya

Cahaya di atas Cahaya.

Indah sekali ungkapannya….Semak surah An Nur : ayat 35.

Menurut tafsiran Ibnu Kathir, tiga istilah yang disebut dalam ayat di atas, yaini Al Misykat, Al Zujajah dan Al Mishbah dapat dianalogikan sebagai berikut:

Al Misykat, yang berupa ‘lubang di dinding yang tidak tembus’, di analogikan sebagai jasad manusia.

Al Zujajah, berupa ‘gelok kaca bagaikan bintang yang berkilauan’, yang terdapat dalam lubang dinding itu adalah hati di dalam jasad manusia.

Manakala Al Mishbah pula berupa cahaya yang terpancar dari pelita yang terdapat di dalam gelok kaca Al Zujajah, adalah sebenarnya bermaksud cahaya yang ada di dalam hati.

Maka, cahaya apa yang ada di dalam hati manusia, yang bisa memancarkan sinarannya, seperti mana cahaya pelita dalam gelok kaca di dalam lubang dinding dapat menyinari sekelilingnya?

Sekali lagi, tafsir Ibnu Kathir mengatakan, kejernihan hati seorang mukmin dek kerana cahaya imannya, yang didapati dari hidayah Allah swt. Maka cahaya iman itulah yang menerangi hatinya, lalu terus menerangi seluruh jasadnya pula.

Manakala, dalam ayat 35 surah An Nur itu juga ada menyebutkan peranan minyak zaitun, dari pohon zaitun yang diberkati, yang menyalakan pelita tadi, yang minyaknya sahaja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak menyentuh api.

Subhanallah….indahnya ayat-ayat Allah. Analogi yang dibuat oleh alim ulamak yang mendapat petunjukNya, sangat-sangat mengagumkan kita.

Diperjelaskan lagi, cahaya di atas cahaya, berlapis-lapis menerangi itu adalah sebenarnya cahaya iman yang berada di dalam hati manusia yang disuluh oleh cahaya hidayah dari Allah swt, yang datang dari kalamNya, Al Quranul Karim. Maka hati yang sudah di terangi api iman, perlu kepada minyak untuk terus dinyalakan, dan minyak itu adalah hidayah dari Al Quran. Simbahan demi simbahan hidayah Allah melalui kalamNya Al Quran, amat dibutuhkan oleh hati  insan, dalam memastikan hati itu terus hidup dan melimpahkan cahayanya pada seluruh kehidupan sipemilik hati tersebut.

Hati yang berupa seketul daging dalam jasad manusia, yang disifatkan dalam hadis Baginda saw sebagai Qalb, yang kalau baik daging tersebut, maka baiklah seluruh jasadnya, yang menjadi raja dalam diri manusia untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang tepat. Hati mukmin itulah merupakan tempat tersimpan dan terpancarnya cahaya iman. Al Quran tidak dapat menyentuh hati, kecuali hati yang mukmin. Dari hati  itulah, segala keputusan dalam tindak tanduk insan bermula. Sayugianya hati perlu sentiasa dibela dan dipelihara, supaya ia sihat dan terus hidup untuk memastikan seluruh jasad lain berada dalam keadaan selamat sejahtera.

Soalnya, bagaimana nak menyuburkan hati tadi?

Perumpamaan minyak zaitun yang diberkahi dengan Al Quran, petunjuk Illahi, sangat2 indah. Melalui Al Quran sebagai sumber hidayah oleh Allah untuk manusia, berpandukan Al Quran itulah, hati disirami dengan inspirasi syariat2 Allah, bagaimana seharusnya kita menjalani hidup ini. Sambungan dari ayat2 dari Surah An nur diatas, Allah menjelaskan:

“….di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut namaNya, di sana bertasbih mensucikan namaNya diwaktu pagi dan petang. Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli, dari mengingati Allah, melaksanakan solat dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari ketika hati dan penglihatan menjadi goncang (kiamat)…”

Itulah ‘baja’ dan siraman hidayah Allah yang terkandung dalam Al Quran, guna untuk terus menerangi hati, raja diri manusia. Al Quran bukan sekadar sumber keberkatan, tapi lebih penting lagi, ia adalah sumber hidayah buat hamba-hamba Allah yang mendambakan redhaNya.

Cahaya di atas cahaya.

Bayangkan bagaimana cahaya iman di hati kita, kalau minyak dari hidayah Al Quran kian kering dan tandus. Bisakah cahaya itu terus menyinar menerangi ‘raja diri’ bagi membantunya membuat keputusan yang benar lagi tepat untuk melayakkan diri dari memperoleh sebaik-baik kebaikan, yaini nikmat syurga dan melindungi diri dari seburuk-buruk keburukan, yaini azab neraka?

Oleh itu, ayuhai diri yang kerdil lagi hina. Ayuhai insan yang dikasihi sekalian…akrablah kita dengan Al Quran. Jadikan ia teman tika lapang mau pun sempit. Bacalah, kajilah, tadabburlah ayat-ayat Allah di dalamnya. Mohon taufiq dan hidayah Allah. Tidak ada daya dan kuasa kita melainkan dengan bantuan dari Nya jua….

One thought on “Al Quran itu Cahaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s